Pertarungan Tiga Cawali Gorontalo Diperkirakan Sangat Ketat


Tiga Calon Wali Kota (Cawali) Gorontalo yaitu Marten Taha, Adhan Dambea, Rum Pagau sudah teruji. Ketiganya berpengalaman. Di Pilwako kali ini, masyarakat Kota Gorontalo tak perlu susah-susah menelusuri rekam jejak kandidat calon wali kota yang akan bertarung.

Tiga calon yang sudah mendaftar di KPU, sudah dikenal luas. Marten Taha sendiri adalah wali kota petahana yang menjabat sejak 2014 lalu. Adhan Dambea menjadi wali kota periode sebelumnya (2008-2013). Sementara Rum Pagau menjadi bupati Boalemo (2012-2017).

Bobot popularitas tiga calon rasanya berimbang. Siapa yang memiliki elektabilitas (tingkat keterterimaan) tertinggi hingga hari pencoblosan, masih fluktuatif. Berpeluang besar grafiknya masih akan naik turun. Tergantung sejauh mana masing-masing calon dapat meyakinkan pemilih bahwa dia layak memimpin Kota Gorontalo lima tahun mendatang.

Soal urusan meyakinkan pemilih, banyak instrumen yang bisa digunakan. Salah satunya konsep membangun daerah. Marten Taha, Adhan Dambea dan Rum Pagau masing-masing membawa satu isu besar yang telah terdistribusi dalam visi misi dan program unggulan.

Menjadi petahana, Marten Taha mengusung tagline ‘lanjutkan’. Tentu ini bukan hanya sebatas slogan biasa seorang kepala daerah petahana. Tapi menjadi kata kunci, yang dapat memberikan panduan bagi pemilih. Untuk bisa cepat memahami visi-misi dan program pembangunan yang disodorkan.

Dengan tagline ‘lanjutkan’, Wali Kota Marten Taha ingin menyampaikan dengan ringkas kepada masyarakat Kota Gorontalo bahwa program-program yang sudah dia jalankan sekarang masih akan berlanjut. Misalnya, program gratis dari lahir sampai mati. Atau, pembangunan drainase dan trotoar yang belum menjangkau seluruh wilayah akan dituntaskan di periode kedua.

Marten Taha juga ingin penataan administrasi pemerintahan yang sudah berjalan sangat baik bisa terus dijaga. Seperti kinerja Pemkot mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pengelolaan keuangan secara berturut-turut, sejak 2014 lalu. Serta, kota yang kembali meraih Adipura di era Marten.

Menjadi penantang petahana, Adhan Dambea tentu merasa apa yang dilakukan Marten Taha tidak sejalan dengan apa yang sudah dia rintis saat menjadi wali kota Gorontalo dari 2008-2013 silam. Sehingga Adhan Dambea ingin mengembalikan arah pembangunan Kota Gorontalo pada rel yang sudah dia bangun sebelumnya.

Maka, tak heran jargon yang dia usung adalah ‘Tertibkan’. Lagi-lagi ini bukan hanya sebatas jargon. Tapi kata kunci untuk mempermudah pemahaman masyarakat terhadap isu besar yang telah dia uraikan dalam visi misi dan program unggulan.

Adhan Dambea ingin memberikan gambaran bahwa aktivitas religius yang terasa sangat hidup saat dia memimpin Kota Gorontalo, akan dihidupkan kembali. Misalnya, pemberantasan buta huruf Alquran, pemberantasan miras dan penyakit masyarakat yang getol ia gencarkan ketika menjadi wali kota.

Lalu bagaimana dengan Rum Pagau? Menjadi pendatang baru di Pemilihan Wali Kota, Rum Pagau ingin tampil beda. Tidak ke kiri, tidak ke kanan. Jargon yang diusung adalah ‘Perubahan’. Rum ingin melakukan perubahan besar terhadap pembangunan Kota Gorontalo.

Berdasarkan pengalamannya mengubah dengan cepat wajah Boalemo saat menjadi Bupati. Dengan mengusung isu perubahan, Rum Pagau kira-kira ingin menjelaskan kepada pemilih di Kota Gorontalo bahwa, inovasi yang dia lakukan di Kabupaten Boalemo bisa dia terapkan di Kota Gorontalo.

Sejumlah inovasi besar Rum Pagau di Boalemo sudah terlihat. Misalnya membangun landmark Boalemo: Jembatan Soeharto. Lalu proyek alih trace yang lebih dikenal dengan proyek rebonding (meluruskan) jalan. Mantan Ketua DPD II Golkar Boalemo ini juga menghadirkan investasi pariwisata yaitu Pulo Cinta yang kini mendunia, dan telah menjadi destinasi wisata unggulan Gorontalo.

Rum Pagau juga berhasil menggandeng investasi sawit dan kakao. Tentu inovasi yang ingin dia lakukan tidak akan lari jauh dari obsesinya menjadikan Kota Gorontalo sebagai pusat kota jasa dan perdagangan.

Tiga isu besar yang diusung calon walikota ini sangat relevan dengan kondisi daerah. Wali kota petahana, Marten Taha yang ingin melanjutkan pengelolaan administrasi pemerintahan yang tertib, tentu sejalan dengan tuntutan reformasi birokrasi yaitu sebuah pemerintahan yang bersih dan baik.

Adhan Dambea yang mantan wali kota Gorontalo, ingin menghidupkan kembali kegiatan religius akan menjawab masalah degrasi moral yang kini menjadi persoalan serius bangsa Indonesia.

Sementara mantan Bupati Boalemo, Rum Pagau yang menginginkan ada lompatan besar dalam pembangunan, juga akan menjawab masalah daya saing daerah. Apalagi kota-kota tetangga seperti Kota Manado (Sulut) sedang pesat-pesatnya bertumbuh.

Tiga isu yang diusung calon semuanya baik. Sekarang pilihannya ada pada masyarakat. Masih cukup banyak waktu untuk menimbang, program calon mana yang bisa menjawab persoalan yang dihadapi daerah dan masyarakat. Gubernur Gorontalo Rusli Habibie beberapa waktu lalu mengatakan, cukup mudah bagi masyarakat Kota Gorontalo untuk menentukan pilihan.

Sebab bagi Rusli, masyarakat tinggal melihat kinerja ketiga kandidat seperti apa. “Mereka tidak perlu kampanye, ubar janji, karena semuanya sudah pernah menjadi kepala daerah. Masyarakat tinggal menilai,” kata Rusli yang juga Ketua DPD I Golkar Provinsi Gorontalo ini.

Misalnya kata Rusli Habibie, Marten Taha dalam periode kepemipinannya di Kota Gorontalo telah melakukan apa saja. Begitu pun dengan Adhan Dambe, seperti apa ia memimpin Kota Gorontalo.

Sementara Rum Pagau, kendati pendatang baru untuk Pilwako Kota Gorontalo, tapi masyarakat bisa melihat kinerjanya di Kabupaten Boalemo. “Kota Gorontalo merupakan etalase provinsi. Masyarakat juga pasti cerdas untuk memilih,”ujar Gubernur dua periode itu.

Sumber: Bakubae.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fadel Muhammad Perkirakan Potensi Bisnis Indonesia-Iran Capai USD 2-3 Miliar

Anggota DPR Dari Golkar Ini Minta Anak Muda Tak Lagi Bercita-cita Jadi PNS

Politisi Golkar Ini Sukses Naikkan Reputasi Gorontalo Semasa Jabat Gubernur