Jusuf Kalla Akan Jadi Tamu Khusus Dalam Konferensi Perdamaian Kabul
Setelah Presiden Joko Widodo mengunjungi Afganistan akhir Januari lalu, kini Wapres JK direncanakan akan bertandang ke negara di Asia Selatan itu pada 28 Februari 2018 mendatang. Duta Besar Republik Indonesia untuk Afganistan, Arief Rachman mengatakan, Wapres JK akan berkunjung ke Kabul ibukota Afghanistan, sebagai tamu kehormatan dalam acara konferensi proses perdamaian Kabul (Kabul Peace Process).
“Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi sudah mengatakan bahwa Presiden Afganistan Ashraf Ghani mengundang Wapres JK untuk jadi tamu khusus dalam Kabul Peace Process. Bapak Jusuf Kalla juga sudah konfirmasi bersedia datang,” ucap Arief di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu (14/2).
Arief mengatakan, dalam pertemuan nanti, Wakil Presiden Jusuf Kalla kemungkinan akan menyampaikan sejumlah pengalaman Indonesia mengenai resolusi dan penanganan konflik internal. Menurut Arief, pertemuan tersebut merupakan salah satu upaya proses perdamaian yang diinisiasi sendiri oleh pemerintah Afganistan tanpa campur tangan negara asing.
Selain tokoh-tokoh dan kelompok masyarakat terkait, sebanyak 24 perwakilan negara sahabat juga akan hadir dalam acara itu. Namun, Arief mengatakan puluhan negara itu hanya akan menjadi pengamat dalam konferensi tersebut.
Dalam pertemuan nanti, ujarnya, pemerintah dan tokoh-tokoh internal akan berdialog mendiskusikan langkah konkret untuk merealisasikan perdamaian. “Akan ada beberapa tokoh internal dari berbagai pihak. Mereka akan membicarakan bagaimana komprominya, dan langkah untuk merealisasikan proses damai yang mungkin tidak akan singkat, harus pelan-pelan,” kata Arief.
Afganistan merupakan negara yang masih didera konflik saudara berkepanjangan. Sejumlah kelompok masih memberontak terhadap pemerintahnya. Akibat konflik internal yang berkepanjangan ini, stabilitas politik dan keamanan Afganistan juga terus goyah. Kondisi rentan ini diperparah dengan kemunculan kelompok bersenjata dan teroris yang memanfaatkan keadaan seperti kelompok Islamic State dan milisi Alqaeda.
Salah satu kelompok pemberontak yang masih menjadi ancaman Afganistan adalah milisi Taliban. Milisi Talibanhingga kini masih menguasai sejumlah wilayah yang didominasi etnis Pashtun. Sejak awal 2017 lalu, milisi Taliban kerap meluncurkan serangan teror di tempat umum dan gedung pemerintahan. Selama Januari 2018 kemarin, tiga serangan bom telah terjadi di ibu kota Kabul dan telah menewaskan lebih dari 100 orang.
Meski begitu, hingga kini Dubes Arief Rachman belum mengetahui apakah tokoh kelompok oposisi utama pemerintah seperti Taliban akan hadir dalam proses damai. “Kami belum mengetahui pasti, tapi mungkin ada pihak yang mewakili dari beberapa kelompok oposisi jika ada hal yang harus disampaikan dalam pertemuan itu,” jelas Dubes Arief Rachman.
Dubes Arief Rachman berharap pertemuan ini bisa terus mendorong tercapainya rekonsiliasi internal di Afganistan. Indonesia yang berpengalaman menyelesaikan beberapa konflik secara damai seperti Aceh, Ambon dan Poso menjadi salah satu negara yang ingin terus berkontribusi dalam perdamaian di Afganistan.
Sumber: Bakubae.com

Komentar
Posting Komentar