Bagi Pemuda Tionghoa Ini, Pasangan NH-Aziz Mampu Satukan Suku dan Agama Di Sulsel
Tokoh pemuda Konghucu Makassar, Erfan Sutono, memuji komitmen Bakal Calon Gubernur Sulsel, Nurdin Halid (NH) untuk mengabdi di kampungnya, Sulawesi Selatan. Nurdin Halid yang banyak berada di lingkaran panggung politik nasional rela pulang kampung dan ‘turun kasta’ demi pengabdian membangun kampungnya.
“Kita patut berbangga, beliau mau pulang kampung. Padahal, Pak NH itu kan tokoh nasional, itu perlu kita apresiasi,” kata Erfan Sutono yang juga Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Sulsel, Kamis (8/2).
Nurdin Halid diketahui memegang jabatan strategis pada berbagai organisasi nasional, bahkan internasional. Selain berstatus pengurus inti Golkar sebagai Ketua Koordinator Bidang Pratama yang mengkoordinasikan dua tokoh penting, Titiek Soeharto dan Ketua DPR Bambang Soesatyo, NH merupakan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dan Vice President International Cooperative Alliance (ICA) Asia Pasific.
Demi bertarung pada Pilgub Sulsel 2018, NH menolak jabatan Ketua Umum Golkar meski ditawari sampai tiga kali. Mantan Manajer klub bola PSM Makassar yang sukses meraih juara di musim 1999-2000 itu terlanjur telah berjanji kepada masyarakat Sulawesi Selatan dan Allah SWT untuk pulang kampung membangun Sulsel yang lebih sejahtera.
Erfan Sutono berharap kepada NH yang berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzakkar (AQGM), bila nanti terpilih mesti menjaga kerukunan antar umat beragama di Sulsel. Pasangan tegas, merakyat dan religius itu harus menempatkan diri sebagai pemimpin untuk semua suku-suku yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.
“Harapan saya adalah semoga pasangan NH-Aziz senantiasa bisa menjaga kerukunan umat beragama. Jadilah pemimpin untuk semua suku, agama dan golongan masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan,” pungkas tokoh muda Tionghoa tersebut.
Sementara itu, NH mengungkapkan pihaknya memiliki komitmen menjadikan Sulsel sebagai rumah untuk seluruh kelompok masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan. Komitmen tersebut artinya adalah, tidak boleh lagi ada diskriminasi dalam bentuk kebijakan maupun prasangka sosial. Keragaman dan perbedaan yang ada, sambung dia, tidak boleh dipertentangkan.
“Negeri Indonesia ini hidup dengan semangat benteng pluralisme. Kita tidak butuh sikap-sikap yang menjurus pada intoleransi. Insya Allah, bila saya ditakdirkan menang menjadi gubernur, saya menjamin tidak bakal ada perbedaan perlakuan apalagi pelayanan yang bias kelompok suku, agama dan golongan tertentu,” pungkas Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan ini.
Sumber: Bakubae.com

Komentar
Posting Komentar