Wapres JK Yakin Konflik Timur Tengah Tidak Berimbas Ke Indonesia
Wapres JK menyatakan bahwa hampir semua indikator-indikator ekonomi nasional menunjukkan adanya perbaikan. Anomali memang masih terjadi terkait kurang cepatnya pergerakan di sektor perekonomian. Bahwa ada polemik soal inflasi tinggi atau rendahnya, hal tersebut bisa diperdebatkan.
“Yang jelas kita bisa menjaga rasio utang terhadap PDB, stabilitas politik nasional berjalan baik, harga barang kebutuhan pokok yang dulu kita selalu persalahkan dalam ekonomi mulai turun, sudah membaik,” katanya saat membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia di Gedung BEI Jakarta, Selasa (2/1/2018).
Wapres JK mengatakan bahwa dulu pertumbuhan hanya berkutat di angka 5% karena harga batu bara turun, karet turun, sawit turun. “Sekarang Alhamdulillah sudah naik. Alhamdulillah, komoditas ekspor kita lebih baik, di negara lain, Masya Allah. Tahun baru kemarin juga semuanya aman,” katanya.
Kondisi baik dan stabil itu menurutnya berimbas kepada ekonomi, sebab ekonomi itu juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor non-ekonomi. Tetapi sebenarnya faktor ekonomi di tanah air sudah membaik, seperti yang digambarkan semakin positifnya indikator-indikator ekonomi.
Meski publik mengkhawatirkan situasi ekonomi global yang fluktuatif, penuh dengan masalah-masalah. Krisis Timur Tengah semakin tak menentu ditambah lagi dengan rakyat Iran mulai menunjukkan ketidakpuasan kepada pemerintah. Namun ekonomi Indonesia relatif tidak terpengaruh.
“Kita memiliki pangsa pasar yang cukup besar, walaupun ekspor kita tentu jika ada masalah bisa terpengaruh situasi global. Tetapi justru jika ada di wilayah kaya minyak, harga komoditas akan selalu ikut naik, kalau harga minyak naik, harga batu bara ikut naik, selalu seperti itu,” kata Wapres JK.
Wapres JK memberikan contoh, jika harga batu bara turun maka harga karet pun ikut turun. “Sekarang kalau harga batu bara naik otomatis yang lain ikut naik. Jadi sebenarnya semua faktor yang bisa mempengaruhi ekonomi kita itu baik,” katanya.
Dalam taklimatnya kepada para investor dan emiten, Wapres JK menilai investasi perlu ditingkatkan bukan hanya di pasar modal, atau pasar uang, tetapi investasi di sektor riil dalam bentuk pembangunan fisik. Misalnya membangun pabrik, smelter, atau investasi yang lain-lainnya yang menyerap tenaga kerja besar.
“Karena jaringannya jika dilihat sudah cukup baik, ritel sudah cukup baik, di mana saja kita berjalan ada toko-toko ritel yang menjual hasil-hasil produksi,” katanya.
Wapres JK beranggapan bahwa salah satu cara untuk menggelorakan investasi adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga secara perlahan dan secara teratur. Bank Indonesia sudah mengatur supaya bagaimana tingkat suku bunga turun agar investasi semakin bergairah.
“Makanya Anda juga berinvestasi di sektor riil, bukan hanya deposito, dan sebagainya. Kenaikan indeks pasar modal salah satu imbas daripada turunnya suku bunga, yang hanya mendapat 5-6% sementara membeli saham mungkin mendapat 10% lalu dia punya keuntungan. Itu semua imbas dari pada kebijakan itu,” katanya.
Adapun soal politik nasional, Wapres JK mengatakan semua baik-baik saja meskipun khalayak ramai menganggap tahun depan adalah tahun politik yang perlu diwaspadai. Namun itu semua tidak memiliki bukti. Karena selama tiga kali terjadi pemilu, tidak ada kerusuhan. Itu tidak ada sama sekali.
“Itu hanya terjadi di masa lalu, karena bentuk kampanye sudah berbeda. Dahulu kampanye mengumpulkan massa, ada benturan, sekarang kampanyenya sudah di dunia maya, di udara kampanyenya sekarang. Kampanye sudah menggunakan media sosial, bukan lagi di jalan,” jelasnya.
Wapres JK meyakini tahun politik masa kini berbeda dengan tahun politik yang lalu. Sekeras apapun perdebatan politik masa kini, tidak akan terjadi benturan keras karena sudah terkanalisasi dalam bentuk perdebatan di dunia maya terutama media sosial.
Sumber: Bakubae.com

Komentar
Posting Komentar